​Mengenal ‘Flat Foot’, Kondisi Medis yang Ganjal Siswi ‘Top 3’ Sulsel Lolos Paskibraka Nasional

- Redaksi

Kamis, 28 Mei 2026 - 12:20 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

MAKASSAR — Polemik gagalnya CYL, siswi asal Makassar yang masuk peringkat tiga besar (Top 3) dalam seleksi Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) tingkat Nasional perwakilan Sulawesi Selatan, akhirnya menemui titik terang.

​Sekretaris Provinsi Sulawesi Selatan, Jufri Rahman, mengungkapkan bahwa salah satu faktor utama yang mengganjal langkah CYL ke Istana Negara adalah kondisi fisik yang disebut flat foot atau telapak kaki datar.

​”Kalau bukan karena matanya, penglihatannya agak kabur. Kemudian kakinya juga ada, apa istilahnya, flat foot atau telapak kaki datar,” ungkap Jufri kepada media, Selasa (26/5/2026).

​Pernyataan ini langsung memicu rasa penasaran publik: Apa sebenarnya flat foot itu? Mengapa kondisi telapak kaki bisa menjadi penentu kelulusan seorang calon Paskibraka, bahkan bagi mereka yang memiliki nilai akademik dan kepribadian yang sangat bagus?

​Apa Itu Flat Foot?

​Secara medis, flat foot (dikenal juga dengan istilah pes planus) adalah kondisi di mana seluruh telapak kaki menapak rata di atas tanah saat berdiri. Pada kaki normal, terdapat lengkungan (arch) di sisi dalam telapak kaki yang berfungsi mirip pegas atau peredam kejut (shock absorber) saat tubuh bergerak.

​Pada pemilik flat foot, lengkungan tersebut tidak terbentuk atau runtuh, sehingga tidak ada jarak antara telapak kaki bagian tengah dengan permukaan lantai.

Fakta Medis: Ada dua jenis flat foot. Pertama, flexible flat foot (lengkungan muncul saat kaki diangkat, tapi hilang saat menapak). Kedua, rigid flat foot (telapak kaki benar-benar rata dalam posisi apa pun). Kondisi rigid biasanya bawaan lahir karena struktur tulang kaki yang kaku.

​Mengapa Paskibraka Harus Bebas dari Flat Foot?

​Seleksi Paskibraka, terutama untuk tingkat Nasional, mengadopsi standar pemeriksaan kesehatan fisik (rikes) yang sangat ketat, serupa dengan standar militer (TNI/Polri). Dalam dunia kesamaptaan, flat foot bukan sekadar masalah estetika bentuk tubuh, melainkan masalah fungsi gerak.

​Berikut adalah alasan mengapa kondisi ini membuat peserta tidak lolos seleksi fisik:

  • Gangguan Keseimbangan dan Postur: Lengkungan kaki berfungsi mendistribusikan berat badan secara merata. Tanpa lengkungan, tumpuan tubuh menjadi tidak stabil. Hal ini menyulitkan anggota Paskibraka untuk menjaga postur tubuh tetap tegak lurus, simetris, dan stabil dalam waktu lama saat melakukan Peraturan Baris-Berbaris (PBB).
  • Risiko Cedera Jangka Panjang: Anggota Paskibraka dituntut menjalani latihan fisik ekstrem, termasuk berjalan tegap maju di atas permukaan keras seperti aspal. Pemilik flat foot yang dipaksakan melakukan aktivitas ini akan mengalami pergelangan kaki yang menekuk ke dalam (overpronation). Kondisi ini memicu nyeri hebat pada tumit, kram betis, hingga radang jaringan (plantar fasciitis).
  • Kelelahan Otot yang Lebih Cepat: Karena tidak adanya peredam kejut alami, otot kaki dan lutut harus bekerja dua kali lebih keras untuk menopang tubuh. Akibatnya, pemilik kaki datar akan jauh lebih cepat mengalami kelelahan kronis saat latihan dibanding mereka yang berkaki normal.

​Kebijakan ‘Semangat’ di Tingkat Daerah

​Dalam kasus CYL, Pemprov Sulsel menjelaskan bahwa kekurangan fisik tersebut sebenarnya sudah terdeteksi sejak awal seleksi di tingkat daerah. Namun, panitia daerah memberikan kebijakan untuk tetap meloloskannya agar yang bersangkutan tetap bersemangat.

​”Karena dia diberi semangat, maka diikutkan ke seleksi pusat. Jadi, dia jatuhnya itu di pansel pusat, panitia seleksi di pusat, bukan di sini,” jelas Jufri Rahman.

​Jufri menegaskan tidak ada istilah “dianulir” atau diganti secara sepihak. Karena proses seleksi nasional masih berjalan (on-going process), keputusan akhir mutlak berada di bawah kewenangan Panitia Seleksi Pusat yang menilai seluruh aspek kesehatan secara kaku tanpa toleransi demi keselamatan dan kesempurnaan formasi di Istana Negara kelak.

​Meski gagal melenggang ke Jakarta karena faktor flat foot dan penglihatan, CYL dikabarkan tetap mendapatkan apresiasi atas kerja kerasnya dan diproyeksikan untuk tetap bertugas sebagai bagian dari pasukan Paskibraka di tingkat Provinsi Sulawesi Selatan.

Berita Terkait

Cegah Gangguan Kamtib, Lapas Parepare Gandeng Brimob dan Polres Gelar Sidak Gabungan
Lapas Parepare Raih Peringkat Pertama IKPA 2025 dengan Nilai Sempurna
OPINI : Menghapus Ego Sektoral: Mengapa Pokir DPRD Parepare Tak Boleh Sekadar Jadi ‘Ajang Permakluman’
Sappe Soal Mamin Parepare Rp7,2 Miliar: Coba Bandingkan dengan Kaltim
Reses Kamaluddin Kadir Ungkap Praktik Denda dan Potong Gaji Karyawan di Parepare
Zulfikar Zuhdy Hadirkan Layanan Kesehatan Gratis saat Reses, Serap Aspirasi Warga Soreang
Asy’ari Abdullah Salurkan Bantuann Kursi bagi Warga Galung Maloang
Bea Cukai Sita 80 Karton Rokok Ilegal di Sulbar, Prosedur Penyitaan Disorot

Berita Terkait

Kamis, 28 Mei 2026 - 12:20 WITA

​Mengenal ‘Flat Foot’, Kondisi Medis yang Ganjal Siswi ‘Top 3’ Sulsel Lolos Paskibraka Nasional

Selasa, 26 Mei 2026 - 10:30 WITA

Cegah Gangguan Kamtib, Lapas Parepare Gandeng Brimob dan Polres Gelar Sidak Gabungan

Jumat, 22 Mei 2026 - 10:39 WITA

Lapas Parepare Raih Peringkat Pertama IKPA 2025 dengan Nilai Sempurna

Kamis, 21 Mei 2026 - 13:08 WITA

OPINI : Menghapus Ego Sektoral: Mengapa Pokir DPRD Parepare Tak Boleh Sekadar Jadi ‘Ajang Permakluman’

Minggu, 17 Mei 2026 - 13:20 WITA

Sappe Soal Mamin Parepare Rp7,2 Miliar: Coba Bandingkan dengan Kaltim

Jumat, 15 Mei 2026 - 18:11 WITA

Zulfikar Zuhdy Hadirkan Layanan Kesehatan Gratis saat Reses, Serap Aspirasi Warga Soreang

Jumat, 15 Mei 2026 - 11:40 WITA

Pastikan Bantuan Tepat Sasaran, Legislator PKS Sappe Desak Dinsos Verifikasi Faktual Data Desil

Kamis, 14 Mei 2026 - 15:31 WITA

Asy’ari Abdullah Salurkan Bantuann Kursi bagi Warga Galung Maloang

Berita Terbaru