Kemendagri Minta Bulog Segera Gelontorkan Beras SPHP, Ada Ancaman Kerugian Negara

- Redaksi

Selasa, 19 Agustus 2025 - 14:54 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

JAKARTA,- Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) mendesak Perum Bulog untuk segera menggenjot penyaluran beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP). Pasalnya, lambatnya penyaluran ini dapat memicu kenaikan harga beras di pasar sekaligus berpotensi menimbulkan kerugian negara.

​Hal ini disampaikan oleh Sekretaris Jenderal Kemendagri Tomsi Tohir dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah pada Selasa (19/8/2025). Menurutnya, realisasi penyaluran beras SPHP Bulog masih sangat rendah dan kondisi ini sudah mulai terasa dampaknya pada harga beras.

​”Karena beras yang tidak disalurkan, atau lambat disalurkan, yang pertama, berdampak pada harga kita trennya naik, kita belum bisa turun,” ujar Tomsi.

​Beras Menumpuk, Mutu Menurun

​Tomsi juga menekankan risiko lain dari penundaan penyaluran. Beras merupakan komoditas yang memiliki batas waktu penyimpanan. Jika terlalu lama menumpuk di gudang, kualitasnya akan menurun, bahkan bisa rusak dan tidak layak konsumsi.

​”Yang kedua, beras ini juga ada jangka waktunya, nanti rusak gitu loh, ya kan? Kalau rusak, nilainya turun atau harus dibuang. Ini akan mengakibatkan kerugian negara juga,” jelasnya.

​Penumpukan beras yang mencapai lebih dari 80% dari total target 1,3 juta ton ini juga menambah biaya pemeliharaan dan berisiko membuat beras apek, berjamur, atau terserang hama.

​”Beras yang tidak tersalur ini makin lama kualitasnya menurun. Kemudian harganya juga jauh, pemeliharaannya juga mahal. Dan bisa saja beras yang didapat dari tahun yang lalu, itu terpaksa harus dihancurkan karena ketidaklayakan,” kata Tomsi.

​Realisasi Jauh dari Target

​Tomsi membeberkan data realisasi penyaluran beras SPHP yang masih jauh dari target. Program ini sendiri dijadwalkan berlangsung dari Juli hingga Desember 2025. Dengan target total 1,3 juta ton, Bulog seharusnya menyalurkan sekitar 216.000 ton per bulan atau setara 7.100 ton per hari.

​Namun, data hingga pertengahan Agustus 2025 menunjukkan realisasi penyaluran baru mencapai 38.111 ton, atau hanya 2,94% dari total pagu. Padahal, seharusnya realisasi satu bulan sudah mencapai sekitar 16,5%.

​”Jauh banget antara (target) 16% dengan (realisasi) 2,94%,” ungkapnya.

​Dengan realisasi harian yang rata-rata hanya sekitar 1.200 ton, angka ini masih sangat jauh dari target harian yang seharusnya dicapai. Provinsi Jawa Timur tercatat sebagai daerah dengan penyaluran tertinggi.

Berita Terkait

Sappe Soal Mamin Parepare Rp7,2 Miliar: Coba Bandingkan dengan Kaltim
Reses Kamaluddin Kadir Ungkap Praktik Denda dan Potong Gaji Karyawan di Parepare
Zulfikar Zuhdy Hadirkan Layanan Kesehatan Gratis saat Reses, Serap Aspirasi Warga Soreang
Asy’ari Abdullah Salurkan Bantuann Kursi bagi Warga Galung Maloang
Bea Cukai Sita 80 Karton Rokok Ilegal di Sulbar, Prosedur Penyitaan Disorot
Reses di Lagota, Husain Saud Soroti Proyek Jalan Mandek dan Drainase Bermasalah
Apa itu Etomidate? Narkotika Jenis Baru yang Rentan Penyalahgunaan
Kasus Korupsi Chromebook: Nadiem Makarim Jadi Tahanan Rumah, Wajib Lapor dan Dipasangi Gelang Pelacak

Berita Terkait

Minggu, 17 Mei 2026 - 13:20 WITA

Sappe Soal Mamin Parepare Rp7,2 Miliar: Coba Bandingkan dengan Kaltim

Sabtu, 16 Mei 2026 - 11:59 WITA

Reses Kamaluddin Kadir Ungkap Praktik Denda dan Potong Gaji Karyawan di Parepare

Jumat, 15 Mei 2026 - 18:11 WITA

Zulfikar Zuhdy Hadirkan Layanan Kesehatan Gratis saat Reses, Serap Aspirasi Warga Soreang

Kamis, 14 Mei 2026 - 15:31 WITA

Asy’ari Abdullah Salurkan Bantuann Kursi bagi Warga Galung Maloang

Kamis, 14 Mei 2026 - 12:20 WITA

Reses di Lagota, Husain Saud Soroti Proyek Jalan Mandek dan Drainase Bermasalah

Rabu, 13 Mei 2026 - 16:16 WITA

Apa itu Etomidate? Narkotika Jenis Baru yang Rentan Penyalahgunaan

Rabu, 13 Mei 2026 - 13:16 WITA

Kasus Korupsi Chromebook: Nadiem Makarim Jadi Tahanan Rumah, Wajib Lapor dan Dipasangi Gelang Pelacak

Rabu, 13 Mei 2026 - 13:09 WITA

Polemik LCC Empat Pilar: Josepha “Ocha” Alexandra, Sang Juara Bertahan yang “Dipatahkan” Juri?

Berita Terbaru