TEL AVIV, rilis.news — Perang 12 hari yang meletus antara Iran dan Israel telah meninggalkan dampak besar, terutama pada sektor ekonomi Israel. Meskipun konflik tersebut berlangsung dalam waktu singkat, kerugiannya tidak main-main: miliaran dolar AS menguap dari berbagai sektor strategis.
Menurut laporan media setempat dan analis pertahanan, serangan balasan antara dua negara itu tidak hanya menelan korban jiwa dan kehancuran infrastruktur, tetapi juga menimbulkan guncangan besar terhadap stabilitas ekonomi domestik Israel.
Sektor paling terdampak adalah pariwisata, investasi asing, dan sistem transportasi publik. Laporan dari Kementerian Keuangan Israel menyebutkan bahwa kerugian ekonomi akibat konflik tersebut bisa mencapai lebih dari USD 15 miliar. Bandara utama Israel sempat lumpuh selama beberapa hari, menyebabkan arus wisatawan asing terhenti total.
Konflik ini dipicu oleh eskalasi ketegangan militer dan diplomatik antara Teheran dan Tel Aviv. Iran melancarkan serangan rudal dan drone secara simultan sebagai respons terhadap dugaan serangan sebelumnya terhadap fasilitas diplomatiknya di Suriah.
Sementara itu, analis geopolitik memperingatkan bahwa meski konflik telah mereda, ketegangan masih tinggi. Dampaknya, pelaku pasar dan investor cenderung menahan diri untuk masuk ke wilayah Israel dalam waktu dekat.
“Ekonomi Israel membutuhkan waktu cukup lama untuk bangkit, terutama dengan ketidakpastian keamanan yang masih berlangsung,” ujar Dr. Eli Keren, ekonom senior di Tel Aviv.
Meski pemerintah Israel mengklaim telah memukul balik dengan efektif, namun tekanan terhadap perekonomian dalam negeri tidak bisa dihindari. Nilai tukar shekel Israel terhadap dolar AS juga melemah tajam di tengah kekhawatiran pasar.
Dengan belum adanya jaminan stabilitas kawasan, para pengamat menilai bahwa pemulihan ekonomi pasca-perang ini akan sangat bergantung pada arah kebijakan luar negeri Israel dalam beberapa bulan ke depan.
Baca berita yang lain dari rilis.news di google berita.










