JAKARTA — Direktur Utama PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO), Julfi Hadi, resmi mengundurkan diri dari jabatannya. Kabar mengejutkan ini dikonfirmasi oleh Sekretaris Perusahaan PGEO, Kitty Andhora, melalui keterbukaan informasi publik pada Kamis (27/11/2025).
Surat pengunduran diri Julfi Hadi telah diterima oleh perseroan pada 25 November 2025. Sesuai regulasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), perseroan selanjutnya akan menggelar Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) untuk memutuskan pengunduran diri dan menunjuk pengganti paling lambat 90 hari kalender sejak tanggal diterimanya surat tersebut.
Pengunduran diri ini terjadi di tengah periode kinerja keuangan PGEO yang kurang memuaskan sepanjang 2025. Perusahaan energi panas bumi ini mencatatkan kenaikan pendapatan sebesar 4,20% year on year (YoY) menjadi US$ 318,86 juta per kuartal III-2025. Namun, pada periode yang sama, laba bersih PGEO tergerus signifikan, yakni turun 22,18% YoY menjadi US$ 104,26 juta.
Faktor Penyebab Penurunan Laba Bersih
Menurut Direktur Keuangan PGEO, Yurizki Rio, pelemahan kinerja bottom line tersebut disebabkan oleh beberapa faktor utama.
Pertama, kenaikan beban depresiasi sebesar 9,61% YoY menjadi US$ 91,49 juta seiring dengan mulai beroperasinya Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Lumut Balai Unit 2 pada Juni 2025.
Kedua, kenaikan beban gaji dan tunjangan yang mencapai US$ 13,4 juta YoY. Kenaikan ini dipicu oleh realisasi program Management and Employee Stock Option Program (MESOP) yang memakan biaya sebesar US$ 7,5 juta.
Ketiga, adanya kerugian selisih kurs (forex loss) sebesar US$ 10,22 juta. Kerugian ini terjadi karena PGEO memiliki eksposur utang dalam mata uang yen Jepang (JPY), yang mengalami penguatan signifikan terhadap dolar Amerika Serikat (US$).
Yurizki Rio, dalam paparan publik pada Senin (3/11/2025), mengklaim bahwa penurunan laba bersih tersebut masih berada dalam batas wajar, mengingat PGEO masih mampu membukukan EBITDA dan arus kas yang sehat. Perseroan juga tengah memfokuskan upaya lindung nilai (hedging) untuk meminimalisir tekanan volatilitas JPY. Upaya ini diklaim berhasil mengurangi rugi selisih kurs menjadi sekitar US$ 8 juta—US$ 9 juta hingga Oktober 2025.










