PAREPARE – Istilah medis “ptosis” menjadi sorotan publik menyusul perbincangan mengenai kondisi fisik Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Topik ini mencuat setelah dokter spesialis bedah plastik, Tompi, memberikan klarifikasi medis guna merespons materi komedi Pandji Pragiwaksono yang menyinggung penampilan fisik sang Wapres.
Secara medis, ptosis adalah kondisi jatuhnya kelopak mata atas sehingga menutupi sebagian pupil.
Kondisi ini sering kali memberikan kesan mata yang tampak “mengantuk” atau tidak simetris.
Tompi menegaskan bahwa tampilan tersebut bukan merupakan bentuk ekspresi wajah yang disengaja atau gestur tertentu, melainkan murni masalah anatomi pada otot kelopak mata.
Tompi menyayangkan penggunaan kondisi fisik (body shaming) sebagai bahan lelucon dalam ruang publik.
Menurutnya, menjadikan anomali anatomi sebagai materi komedi bukan merupakan bentuk kritik yang cerdas.
Ia menilai tindakan tersebut justru mengaburkan substansi kritik yang seharusnya berfokus pada kinerja atau kebijakan, bukan pada kekurangan fisik seseorang.
Dalam dunia kedokteran, ptosis dapat terjadi karena beberapa faktor, antara lain:
Faktor Kongenital: Kondisi bawaan sejak lahir.
Faktor Akuisita: Akibat proses penuaan, cedera saraf, atau melemahnya otot levator (pengangkat kelopak mata).
Para ahli medis menekankan pentingnya pemahaman masyarakat agar tidak menyalahartikan kondisi patologis sebagai karakteristik kepribadian seseorang.










